KEHILANGAN PERAN
Tidak ada yang benar-benar ingin kehilangan perannya. Ini bukan perihal pilihan, apalagi kebanggaan. Ini perihal bagaimana bisa survive untuk bertahan hidup. Paling penting, ini bukan untuk berbangga-bangga dengan apa yang sedang dijalankan perannya.
Tidak banyak alias sedikit atau hanya perasaanku saja, bahwa issue tentang kesetaraan Perempuan dan laki-laki semakin jelas adanya. Kadang kita lupa dengan peran yang sesungguhnya. Lantas, siapa yang berhak menjawab setiap tanya ?
Kehidupan sosial, ada pembagian tugas (division of labour). Begitu pula dalam kehidupan keluarga karena tidaklah mungkin sebuah kapal dikomandani oleh nahkoda. Talcoot person dan Bales (1978) berpendapat bahwa keluarga adalah sebagai uni sosial yang memberikan perbedaan peran suami dan isteri untuk saling melengkapi dan saling membantu satu sama lain. Keharmonisan hidup hanya dapat diciptakan bila terjadi pembagian peran dan tugas yang serasi antara perempuan dan laki-laki, dan hal ini dimulai sejak dini melalui pola Pendidikan dan pengasuhan anak dalam keluarga.
Belakangan ini, lelaki kehilangan perannya sebagai qawwam dan Wanita kehilangan perannya karena alih-alih kesetaraan. Biasanya, hal-hal seperti ini kerap terjadi di lingkungan keluarga modern. Ada yang beralasan karena hilangnya peran ayah, ada yang mengatakan karena terlalu lama tinggal di lingkungan yang tidak sehat penuh tekanan. Mengakibatkan tanggung jawab tidak selaras lagi.
Sejatinya, dalam islam, lelaki diposisikan sebagai Qawwam yaitu penanggungjawab, pelindung dan pemimpin keluarga. Sedangkan Perempuan dimuliakan sebagai pusat pengasuhan, Pendidikan, dan penjaga ketenangan rumah tangga. Perbedaan peran bukanlah hierarki, melainkan pembagian tugas yang saling melengkapi.
Kehilangan peran ini karena prinsip-prinsip agama bahwa lelaki adalah Qawwam tidak dijalankan dengan sebagaimana mestinya. Ketika lelaki terlalu banyak mendapat tekanan dari setiap sudut, dia menjadi dua kepribadian, 1) menjadi lebih giat dalam menunaikan kewajiban, 2) menjadi malas dan menyerahkan tanggung jawab kepada yang tidak semestinya. Kali ini, mari kita bahas untuk point yang ke-2 saja. Tidak sedikit lelaki yang mencari aman saat dihadapkan dengan tekanan di sekelilingnya. Tentu banyak sekali hal yang memfaktorinya. Salah satunya adalah ketidaktahuan akan peran yang sebenarnya, secara agama maupun sosial budaya. Banyak lelaki memilih berdiam di rumah meninggalkan tanggungjawabnya. Alih-alih karena adanya ketidakpuasan dari beberapa pihak di sekitarnya. Tapi ketahuilah, hal ini bisa menyebabkan keberlanjutan untuk generasi berikutnya, jika kita memilih diam dan membiarkannya. Menyebabkan kepemimpinan yang rusak, struktur keluarga mengalami distorsi, meskipun secara sosial tetap tampak utuh.
Sedangkan Perempuan dituntut untuk mengambil alih peran yang bukan miliknya. Bekerja dari pagi hingga petang, disuguhi tugas-tugas yang selalu bikin sakit mata dan pinggang. Belum lagi setiba di rumah harus menjadi ibu yang siap siaga bak ingin perang, besoknya Kembali lagi menjadi ayah yang mencari nafkah, tulang punggung sampai ke pinggang. Kadang kita juga memahami bahwa hal demikian bisa terjadi bukan karena sebuah pilihan melainkan semata-mata karena kebutuhan. Alih-alih agar keluarga tetap tenang tanpa tekanan.
Secara reflektif, islam sangat memuliakan Perempuan, terlebih dari segi kekuatan, namun tidak pernah menetapkan bahwa kelelahan Adalah sebagai takdirnya. Seringkali beban ganda yang disimpannya diam-diam, dibungkus kesabaran, meledak di waktu yang akan datang. Karena, Perempuan tetaplah Perempuan. Akalnya setengah, setengahnya lagi adalah perasaan. Terlihat kuat tanpa beban, bisa menghilangkan hak untuk dilindungi dan ditopang. STOP !!!! menormalisasi bahwa “WANITA KUAT”, sehingga tanpa disadari kekuatan itu lahir dari keterpaksaan. Ini bukanlah kondisi yang ideal dalam islam. Ini adalah tanda, bahwa adanya amanah yang gugur dari satu pihak berpindah ke pihak yang lainnya. Akibatnya sangat banyak, salah satunya adalah ketimpangan peran terhadap pembentukan karakter keturunan.
Ketimpangan karakter anak hingga keturunan ini bisa hadir karena adanya kehilangan figure. Figure ayah yang kehilangan fungsi, menyebabkan anak-anak belajar tanggungjawab dari ketidakhadiran, bukan keteladanan. Sebuah kondisi yang berpotensi diwariskan lintas generasi.
Mari kita renungi Bersama, bahwa keadilan dalam islam bukanlah untuk keseragaman peran, melainkan untuk keseimbangan tanggung jawab. Ketika setiap peran dijalankan sesuai dengan fitrah, sesuai dengan tuntunan sunnah dan Al-quran, maka in syaa Allaah, akan keluarga akan menjadi Sakinah, bukan arena tinju, perang, ajanglomba, Dimana arena hanya secara sepihak diperjuangkan. Islam tidak pernah melarang Perempuan menjadi kuat, namun juga tidak meridhoi dia berjalan sendirian dalam beban yang semestinya harus dipikul bersama. Kehilangan peran disini bukan hanya tentang siapa yang mampu mengambil alih, tetapi adalah tentang siapa yang lalai menjaga amanah.
Terima kasih, sudah membaca. Salam hangat dari aku, Rahmah.

Komentar
Posting Komentar